Uang bukanlah segalanya kawan! Jikalau saja aku menuruti ego ku untuk melawan, nekat; seperti yang ibunda tercintaku sering peringatkan sebagai sisi burukku yang parah; cerita ini tidak akan ada.
Suatu hari Hr. Krist, kepala perwakilan bantuan Jerman menghampiriku: "Pak Panjaitan, anda bisa memberikan pembekalan materi untuk orang lab Sigli?" tanyanya. "Baiklah" sahutku.
Kala itu karirku di Banda Aceh masih berumur 2 bulan, aku baru saja keluar dari ruang seminar tentang Sanitasi Masyarakat atau "SaniMas" bahasa bekennya, yang diselengarakan gtz-slgsr (gesselschaft für technische zusammenarbeit - support for local governance and sustainable reconstruction, Badan kerjasama teknis Jerman - bidang dukungan kepada pemerintahan lokal dan pembangunan kembali yang berkelanjutan).
"Tolong bicara dengan Hr. Kreuzberg mengenai pendanaan hal ini kemudian bahas proposalnya dengan pak Doni" instruksinya.
Pak Doni atau Max Doni Idris Kamil Ph.D. lebih tepatnya adalah staf ahli, tangan kanan Hr. Krist, sekaligus dosen bidang lingkungan di ITB. Sedangkan Hr. Kreuzberg, Dr. Michael Kreuzberg lengkapnya, adalah orang ded (Deutscher EntwicklungsDienst, dinas pelayanan pengembangan Jerman) adalah konsultan Jerman yang dikirimkan dari Jakarta untuk membantu perkembangan pembangunan kabupaten Aceh Besar dan bidang lingkungan Bapedalda Sigli.
Tidak lama kemudian di dalam kantor pak Doni pembahasan mengenai proposal program pelatihan tersebut dibicarakan. "Pak Panjaitan anda harus mencantumkan semua biaya secara terinci termasuk provision cost anda di dalam proposal" ujar pak Doni.
"Pak kalau boleh saya mau lihat format proposal terdahulu, agar saya dapat merancang seperti apa bentuknya dan biaya profesional saya tidak ketinggian saya taruh" usulku. Lalu beliau membuka-buka arsipnya yang lalu dan mem-forward-nya kepadaku via email.
Segera setelah itu aku telepon Hr. Kreuzberg mengenai rinciannya. Lalu aku buat janji untuk bertemu dengannya sore itu setelah pulang kantor di lobi kediamannya Hotel Medan jam 18 sore. Tepat waktu, aku datang dan menginformasikan keberadaanku melalui telefon lobi kepadanya. "Aku segera turun ke Lobi" sahutnya dalam bahasa Jerman diujung yang lain.
Singkat cerita, terkuak bahwa Hr. Krist sudah menjanjikan membantu kantor Bapedalda Sigli untuk mengembangkan laboratorium pengawasan lingkungannya, lantas ded yang masih memiliki dana cadangan mungkin bisa menggunakannya untuk membeli bahan-bahan kimia untuk memperlengkapi perkakas lab yang masih belum ada. Berhubung dana gtz untuk Indonesia telah dialihkan ke daerah operasi Asia Selatan, jadi gtz-slgsr tidak memiliki dana yang dibutuhkan untuk melaksanakan program pelatihan tersebut.
"Mungkin masih bisa ded mengalokasikan dana max €10,000 untuk program pelatihan dan pengadaan bahan kimia serta kelengkapan peralatan lab Bapedalda Sigli, tapi anda harus terlebih dahulu merinci alat dan bahan kimia apa saja yang dibutuhkan mereka" ungkap Dr. Kreuzberg.
"Baiklah kalau begitu saya akan melakukan tinjauan sebagai tahap awal di tanggal 24-25Juni ini ke Sigli, setelah itu saya akan susun laporan dan usulan pengadaan kelengkapan alat lab seperti yang anda butuhkan agar bisa diajukan ke kantor pusat di Jakarta" jawabku.
Dengan serius dan sesegera mungkin aku kerjakan proposal ke gtz-slgsr dan usulan pengadaan ke ded secara paralel. Beberapa hari kemudian proposal untuk gtz-slgsr untuk lab-assesment selesai, langsung aku telp Hr. Krist via HP. "Langsung saja berikan kepada sekretaris saya pak Panjaitan" ujarnya. Tanpa berpikir macam-macam aku berikan proposal terperinci 3halaman tersebut kepada sekretarisnya.
Tanpa praduga atau pertanda apapun aku sampaikan ke sekretarisnya secara pribadi. "Pak Panjaitan ini untuk apa?, tanggal berapa?, rincian biayanya mana?, ini tidak bisa seperti ini formatnya" ucapnya dengan gaya memerintah dan dengan nada tinggi, seakan-akan dialah bosnya dan aku hanya sekedar orang baru yang perlu diberi pengertian. Aku jelaskan kepadanya dengan sopan "Ibu semuanya sudah saya cantumkan disana, jenis kegiatan, tanggal pelaksanaan dan rincian biayanya. Ini adalah proyek Hr. Krist yang secara pribadi beliau sampaikan kepada saya untuk dibantu pelaksanaanya, jadi ibu kalau ada pertanyaan-pertanyaan detil khusus silahkan ibu langsung bicara dengan atasan ibu"
"Iya tapi kami memiliki aturan di kantor ini, biaya ini tidak bisa begini, besarannya harus sekian, dll. Saya tidak mau nanti saya menjadi bulan-bulanan oleh auditor saat mereka datang mengaudit" lanjutnya dengan nada lebih tinggi lagi. Aku sudah mulai tidak tahan dengan gaya nada tingginya, terlebih lagi dengan emosiku yang sudah mencapai ambang batas "Dengar ya Ibu, saya menyusun ini semua bukan atas prakarsa pribadi, tapi sudah terlebih dahulu berkonsultasi dengan pak Doni, dan sebenarnya yah Bu, bukan urusan saya untuk berkutat-kutat dengan urusan administratif seperti ini, saya sudah cukup pusing dengan materi bahan yang akan saya berikan, belum lagi dengan akomodasi dan lunch-snack tetek-bengeknya, jadi kalau ibu tidak suka ya sudah" dengan langkah cepat aku berdiri dan hendak beranjak pergi.
Ibu Ratna, sang sekretaris Hr. Krist yang sudah berumur (sekitar 60-an), bergegas beranjak pergi memanggil asisten sekretarisnya: bu Desi. Dengan gaya yang sama bu Desi menerangkan kepadaku "Pak, sebaiknya bapak membuat proposalnya kembali, sesuai dengan aturan, ini tidak bisa begini, itu tidak bisa begitu, bla..bla..bla.."
Kontan aku berfikir dan berkata dalam hati "Apa gunanya mereka, semua para sekretaris ini, kalau urusan administratif seperti ini saja mereka tidak bisa selesaikan?". Lalu aku jawab se-tenang mungkin (menekan emosiku yang sudah membludak) dengan nada yang sedikit halus dan berirama manis namun entah kenapa volumenya masih terasa besar (hehehe..aslinye keluar) "Ibu Desi, saya kan baru pertama kali buat proposal untuk gtz dan saya sudah berkonsultasi dengan pak Doni mengenai hal ini, jadi kalau ibu merasa masih ada banyak kekurangan atau melanggar aturan yang ada, sudah sewajarnya. Bagaimana kalau seandainya ibu mencoret angka-angka yang tidak sesuai dan menjadikannya masuk sesuai dengan aturan?" jawabku.
"Ya ga bisa dong pak, ini kan bukan kali ini bapak mengajukan proposal nanti-nanti kan bapak akan mengajukan hal yang sama. Jadi anggap aja ini latihan untuk yang selanjutnya" lanjutnya dengan gaya tanpa rasa malu. Hatiku geram dan tak tertahankan lagi "LAIN KALI? TIDAK AKAN ADA LAIN KALI, LAIN KALI SAYA TIDAK MAU!" ujar saya lantang.
Pada saat bersamaan pak Doni datang dan memberikan wejangan ke bu Desi, agar dia maklum bahwa proposal itu sudah dibahas dengannya dan bahwa itu adalah kali pertama saya mengajukan proposal ke gtz jadi tolong dibantu.
Hari itu juga, proposal pendapatan-provisional fee-ku secara sepihak dibatalkan oleh gtz-slgsr. Lantas aku mengirim sms ke Dr. Kreuzberg menyatakan ke-engganan-ku untuk melaksanakan program tersebut. Saat itu juga Dr. Kreuzberg telefon aku, masalahnya aku jelaskan kepadanya dengan halus. Kemudian dia menawarkan bahwa masih ada sumber pendanaan lain. Lantas aku tanya apakah bisa nanti aku masukkan provisional fee yang dibatalkan tersebut dalam usulan pendanaan kepada ded, beliau bilang masukkan saja.
Setelah kerja peninjauan lab assesment, aku sms lae aku yang kerja di perusahaan distribusi bahan-bahan kimia di Jakarta, menjelaskan proyek pengadaan bahan kimia dan alat-alat lab yang mungkin bisa dijalankan skala kecil-menengah (100juta). Dengan antusias si lae menelpon, aku bilang aku ingat beliau sehingga menghubungi langsung ketika ada potensi proyek pengadaan tersebut. Semua rincian bahan kimia dan peralatan yang aku cantumkan dalam proposal aku kirimi kepadanya via email.
Tak disangka, kira-kira 1 minggu sebelum pelaksanaan program pelatihan Dr. Kreuzberg telpon "Pak Panjaitan, usulan dukungan pendanaan yang kita kirim ke pusat tidak disetujui". Hatiku tersentak kaget dan aku bilang "Apa yang bisa saya katakan saat ini Dr. Kreuzberg? ya sudahlah" dengan hati lesu pembicaraan di telpon hening sesaat. Kemudian beliau bertanya "Apakah anda masih mau melanjutkan proyek ini?"
Hampir saja aku menjawabnya aku tidak lagi berminat, namun mengingat tujuan awal aku datang ke Aceh yaitu untuk mengabdikan ilmu aku menjawab sebaliknya.. "Pak Kreuzberg, saya sudah memberikan persetujuan saya, dan saya akan menghormati janji saya yang telah terucap, tetap saya akan laksanakan". "Baiklah kalau begitu" sahutnya diseberang sana.
Di hari jumat di akhir minggu itu, sebelum program pelatihan tersebut dilaksanakan kepala Bapedalda Sigli datang ke Banda Aceh dan menawarkan untuk bertemu katanya: "Pak Panjaitan, seandainya masih ada yang harus dilengkapi terhadap bahan kimia dan perlengkapan lab tolong saya diberitahukan agar dapat dibuat rancangan pendanaan pengadaanya"
Tersentak, otakku langsung bekerja, seperti punya inspirasi baru, pengajuan potensi proyek ku yang keluar kepada lae untuk pengadaan bahan dan perlengkapan lab akhirnya dapat terlaksana juga. Dengan cepat aku katakan "Pak, memang saya sudah mendata bahan dan perlengkapan lab yang dibutuhkan namun dibatalkan oleh badan-badan bantuan jerman itu, nanti saya akan email langsung kepada bapak, tolong saya di sms alamat email bapak biar saya attach dokumen nya"
Singkat cerita, ternyata usulan pengadaan itu sampai sekarang tidak terlaksana jua, entah karena rancangan anggaran untuk tahun ini dan tahun depan sudah lewat masa nya atau karena lain hal, aku tidak tahu. Akhirnya aku dikecewakan lagi, terlebih karena omonganku yang sudah terlanjur keluar untuk si lae.
Meski aku benci dikecewakan, aku lebih benci lagi mengecewakan orang dan tidak menepati janjiku, sebisa mungkin aku mencari cara agar semua janji yang aku ucapkan terlaksana. Namun apa daya, ternyata semuanya itu sia-sia, kekecewaan demi kekecewaan datang bertubi-tubi.
Hari minggu aku berangkat ke Sigli, usai bergereja. Dijemput langsung di kostan jam 13 siang. Sampai di Sigli jam 16sore di Wisma Dian, tempat aku menghabiskan 6hari waktuku. Semua perlengkapan aku cek dan cek ulang agar pada hari H semuanya berjalan lancar.
Puji TUHAN ternyata acara berjalan sukses, meski disana-sini terhadap masalah teknis, namun aku merasa TUHAN membantuku dalam setiap hal. Proyektor pinjaman gtz-slgsr ‘ngambek‘ ga mau menampilkan gambar, padahal semalam aku sudah tes, menonton film "Hancock" dengan proyektor di dinding kamar wisma, eh malah paginya ga mau beroperasi, bener ‘ngambek‘ kali yah? Tetapi, ternyata orang Bapedalda memiliki proyektor baru merk Acer yang masih perawan, benar-benar belum dibuka plastiknya. Alhasil semua berjalan sukses, yang paling berkesan bagi mereka adalah disaat waktu praktek lapangan.
Kami mengunjungi hulu sungai di luar kota dekat dengan gunung, jalan berliku, dan pemandangan indah seolah menyambut kami dengan kesegaran setelah seminggu penuh diberikan beban pembekalan materi. Di pinggir sungai yang airnya bersih dan deras serta di udara yang sejuk-mendung kami mempersiapkan alat-alat uji air, berfoto-foto, makan snack dan menghabiskan waktu bersosialisasi dengan para pejabat Bapedalda Sigli.
Di akhirnya, aku memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengkritik program pelatihan tersebut dengan memberikan Questionnaire sebagai bahan umpan balik (feed back) dan mayoritas mereka menilai bahwa program itu berjalan dengan baik hampir sangat baik, hanya satu orang yang memberikan penilaian cukup. Saran mereka yang paling banyak adalah bahwa sebaiknya lebih sering dilakukan praktek lapangan. Aku senang.
Mereka mengucapkan banyak terima kasih padaku, suatu kali mereka menyediakan banyak sekali buah durian khusus untuk aku, sangking banyaknya hingga aku perlu 2 orang kawan makan untuk menghabiskannya. Oh.. indahnya pelayanan..
Kekecewaan demi kekecewaan datang menghampiri… Terlibatnya emosi namun kehendak TUHAN harus terjadi… Ketika semuanya usai sungguh mains dan indah tak terperi…