Melayani

March 18th, 2009 by jdrudolfp2

Kemarin baru saja internet di kantor kembali connect, kesempatan yang berbahagia ini mesti dimanfaatkan semaksimal mungkin. So i am writing you guys my personal experience that occur last month for the period of 4 days.

It all started when some ‘bule’s (what we Indonesian use to call foreigners) took part in our sunday service in HKBP Banda Aceh. Two of those sits in front of me, they are old folks, a pair of them, of some 60-70 years of age.

In the begining i was inert and took no notice of their attempt to understand the speech that the pastor delivers, since the interpreter sitting next to them translated the Bahasa Batak mixed with some Bahasa Indonesia into English, which is their native tongue.

After some time, it occured to me that the translator, due to his lack of english vocabulary, failed to attempt to translate major parts of the speech. Moreover, as time went on, he eventually stop translating. This really bothers me, do you know why?

Since i remember the saying during sunday school from my childhood years, that thy shall not withheld thy talent before GOD, hence make every effort to use it to glorify HIM. I in this case, i happen to know English, more than the translator, but as a devout asian with eastern philosophy of down-to-earth charracter, i instead, refrained from acting as the next translator. Fearing that some of the neighbouring congregations would incite sinisicm of ‘arrogancy’ or ‘boastfulness’ to my part.

It took quite a long time before, i gathered my courrage to burst-out to ask them whether they would like me to help them translate the words into english. Which they gladfully acknowledge an acceptance with gratitude.

To cut the story short, it turn out, that the translator is in dire need of a competent translator for the upcoming event held by one of the deaconial wing of the church, of the Lutheran Church Missouri Synod - Medical team.

They are scheduled to deliver Health check-up for the Tsunami victims living in Barracks from February 19th to February 22nd, 2009. This event was a second event for them, thus, based on prior experience they told the translator in the church, as their liaison officer in Banda Aceh, to seek and arrange for a more able translator, unlike the previous one.

Setelah melalui beberapa tahapan administrasi, telefon datang pukul 7 malam, dengan informasi gaji yang akan saya terima. Terus terang, nilainya masih sangat jauh dari harapan. Namun karena itu datang dari gereja dan sifatnya adalah diakoni sosial saya pun menyanggupinya dengan tulus. Berharap bahwa itu adalah persembahan saya pada TUHAN dan tanda bukti ibadah saya dengan cara lebih mementingkan kasih kepada orang yang membutuhkan ketimbang sejumlah uang.

Selain daripada itu, yang terpenting, melatih diri saya untuk tidak egois, melainkan mengutamakan kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri yaitu dengan melayani sesama yang tidak mampu sesuai dengan apa yang ada pada saya, tanpa membedakan latar belakang agama dan kesukuan.

Jika saja saya terlalu berpandangan negatif terhadap para pengurus administratif terhadap kemungkinan ‘pemotongan gelap gaji’ yang umumnya lazim di Indonesia, saya tidak mungkin sampai kepada keputusan pemikiran saya, yang akan saya jelaskan sebentar lagi.

Dengan segala kekurangan dan disorientasi kerja sama yang terjadi pada hari pertama, tim medis berjumlah 12 orang AS, termasuk 2 dokter, tiba di Banda Aceh dan langsung menuju tempat pelayanan medis yang pertama yaitu Barak Raider, yang didirikan oleh Swiss Red Cross bekerjasama dengan NGO lainnya.

Saya terkejut dan terenyuh pada kenyataan bahwa ternyata masyarakat kelas bawah kondisinya sangat menyedihkan. Namun demikian sebagian besar dari mereka tetap memancarkan aura kebahagiaan di wajahnya. Sesuatu yang kurang masuk akal bagi saya, namun benar-benar sebuah fakta kebesaran TUHAN seperti petikan puisi yang tertulis pada kitab Mazmur bahwa ”IA menyembunyikannya dari sebagian orang namun menyingkapkannya kepada orang kecil”

Ada yang sakit batuk, pusing, sakit kulit, kekurangan gizi, masalah nafsu makan pada anak, ketidakberdayaan dalam melawan penyakit, dll. Sebahagian dapat diberikan perlakuan medis, sebagian lagi harus menerim kenyataan bahwa penyakit tersebut tidak ada obatnya.

Saya sebagai penyambung lidah sang dokter, adalah orang yang paling intens merasakan sulitnya menyampaikan hal tersebut kepada pasien. Dan saya semakin sadar bahwa betapa sedikitnya pengetahuan yang kita miliki dalam dunia medis dan perawatan serta metoda penyembuhannya.

Dengan uang yang sedikit itu saya justru bersyukur, bahwa pengalaman menyentuh qalbu seperti itu dapat saya rasakan. Begitu dekatnya dengan penderitaan dan ketidakberdayaan manusia, membuat saya semakin sadar akan kebesaran TUHAN.

Tidak lagi saya melihat orang Aceh sebagai suku radikal dalam hal keagamaan dan kesukuan namun sebagai saudara kekasih TUHAN.

Hal ini dibangkitkan oleh kesadaran para tim Medis, yang memang memberikan kemampuan medis mereka cuma-cuma, bahkan mereka mengeluarkan uang dari kantong sendiri untuk bisa dapat membeli obat-obatan dan melayani orang-orang yang dikasihi TUHAN tersebut.

JIKA MEREKA TIDAK DIKASIHI TUHAN, ADAKAH TUHAN TIMBULKAN RASA SIMPATI DI HATI TIM MEDIS UNTUK JAUH-JAUH DATANG KE ACEH UNTUK MELAYANI?

Moral of the story: Tanpa membeda-bedakan suku dan agama, TUHAN tetap mengasihi orang Aceh, andaikan saja orang Aceh bisa menyadari itu.

Dan,

Saya melakukan apa yang TUHAN perintahkan melalui hati kecil saya, mengabaikan logika saya. Is that love of faith?

I let you decide.

James D. Rudolf Panjaitan

März 18-e, 2009

Buku Kehidupan

November 12th, 2008 by jdrudolfp2
Book of Life

Book of Life

Manusia di akhir hayatnya seringkali bergumam hal-hal tidak wajar seperti: ada seseorang yang sedang menunggu di dekatnya yang bersiap-siap menjemputnya pergi, ada yang berbicara akan betapa tenang, bahagia dan terangnya jalan yang akan dia lalui yang terbentang dihadapannya. Ada juga yang bercerita bahwa disuatu seting di langit/awan terang berkumpul sejumlah besar kumpulan manusia yang mengantri untuk melihat apakah namanya ada tercantum di atas kertas khusus yang terbakar setelah dilihat/dibaca.

Tepat 10 hari yang lalu kira-kira pukul 19:40 malam bapa dipanggil TUHAN. Di ruang high-care lantai 4 Rumah sakit Kanker Dharmais, di sore hari jam 4 penderitaan panjang beliau mulai berujung-akhir.  Cuaca gelap mendung dan hujan lebat seakan mengiringi suasana duka yang menghampiri. Dengan nafas yang susah payah, tubuh yang gelisah dan erangan ringis kesakitan seakan menandakan ketidakrelaan beliau untuk pergi menghadap bapa di surga. Kami sekeluarga berkumpul mengelilingi tempat tidur beliau memberikan penghiburan, saudara-saudara datang beriringan satu per satu, ada yang mengajak berdoa, bernyanyi dan mencoba berbicara kepada beliau didekat kupingnya..

Kanker lymphoma malignant yang sudah diidapnya selama 2 tahun ternyata berujung kepada komplikasi hati. Menyebabkan perutnya kembung akan cairan, kakinya bengkak, matanya kuning dan kulit tangannya gatal akibat disposisi garam lipid yang keluar dari pori-pori kulit dikarenakan ketidakmampuannya lagi memproses dan mengeluarkan cairan tersebut dari jalur normal: Urin.

Setelah dokter ahli hati datang melihat kondisi bapa, beliau menjelaskan kalau kemungkingan penumpukan cairan tersebut telah berada di otak dan terus bertambah. Adanya tulang tengkorak pelindung otak menghambat proses ekspansi volume seperti di perut, sehingga otak terhimpit dan semakin tertekan menjadikan fungsi mulianya semakin lama semakin mengecil.

Kesadaran bapa yang terkadang hadir, ditandai oleh pandangan matanya yang fokus ketika mengenali para pengunjung/saudara dekat lambat laun menghilang. Kegelisahan tubuhnya yang dapat diamati oleh pergerakan kakinya yang kadang melipat kadang melurus dan tangannya yang bergerak berusaha melepas selang oksigen di hidungnya atau terkadang bergerak keatas kepalanya kemudian turun,  tidak lagi aktif, yang menandakan fungsi sensor dan aktuator motoriknya menghilang. Erangan kesakitan dan keluhan nafasnya yang kerasa jelas terdengar, semakin pelan dan semakin pelan tak terdengar. Kalau dengan perhitungan penurunan parameter medis dengan rasio yang stabil bapa baru akan meninggal pukul 3 dini hari esoknya, namun kami semua berdoa merelakan kepergian beliau. Seakan doa itu didengar oleh TUHAN dan beliau, maka dengan cepat kondisi pernafasan, O2 dan denyut jantungnya menurun. Terakhir terlihat mata sebelah kanan beliau mengecil daripada mata kiri dan statis, lalu dokter jaga yang berada disisinya pun berkata: “Bapa sudah tiada”

“BAPA…..” teriak Mama menggelegar histeris sembari mencak-mencak mengangkat tangan dan kakinya ke segala arah.

Satu hal yang aku ingat ketika bapa masih hidup dan dalam penjagaan kami. Beliau pernah berkata bahwa disuatu kondisi setengah sadar beliau melihat diawan ada banyak sekali kumpulan orang menunggu giliran untuk masuk dan beliau berada pada suatu meja dengan penjaga memegang buku yang terbuka yang seketika berubah menjadi api dan beliau bertanya apakah namanya ada disana, namun jawaban belum beliau dapatkan. Kira-kira 3 hari sebelum kematiannya beliau kembali bergumam setengah sadar bahwa namanya sudah ada di lembaran kertas buku kehidupan.

Kepergian bapa saya sambut dengan sukacita dan bahagia, seiring dengan air mata kesedihan bercampur senang. Tidak lagi beliau rasakan sakit di perutnya yang kerap kali dia keluhkan atau sesak nafasnya ataupun pusing-pusingnya. Semuanya tinggal kenangan..

Saya yang sedari kecil takut melihat mayat, kali itu sirna sama sekali semua ketakutan berganti kasih sayang yang begitu besar dan kepuasan yang mendalam karena berada disisinya ketika saat itu datang. 4 malam berturut-turut saya jaga bapa dengan kekuatan dan stamina yang seakan tidak mungkin saya miliki. Sungguh TUHAN itu baik, IA mengizinkan saya berada disaat-saat penderitaan bapa.

Proses persemayaman dan pemakaman bapak selama 2 hari 3 malam dikunjungi oleh luar biasa banyak orang. Seandai tidak percaya, bahwa di hari kerja seperti Selasa dan Rabu dengan cuaca buruk mendung dan hujan masih banyak orang yang mau menyempatkan diri untuk datang melihat beliau terakhir kalinya, hingga jalan di sekitar kediaman kami macet panjang sampai ke ujung pasar. Saya sempat mengucapkan terimakasih kepada khalayak ramai sembari terkagum: “Gajah mati meninggalkan gadingnya, anak manusia wafat meninggalkan perbuatan baiknya” Sungguh saya tidak mengira bahwa bapak meninggalkan begitu banyak kesan kepada banyak orang sehingga diwaktu yang tidak mendukung seperti itu masih banyak yang mau datang memberikan ucapan belasungkawanya tidak hanya dari jakarta tapi juga dari luar pulau jawa.

Tidak lagi saya takut akan kematian melainkan menyambutnya seperti seorang anak kecil menyongsong kediaman bapanya yang damai di surga.

Tadi malam ketika pulang ke Banda Aceh dari Jakarta pesawat yang berguncang terhempas oleh angin dalam cuaca buruk saya sambut dengan doa penyerahan nan bahagia, bukan lagi doa keselamatan. Seakan-akan tidak sabar untuk menyambut kematian. Namun ternyata TUHAN berkehendak lain.

Biarlah kehendakMU yang jadi ya TUHAN

Perselingkuhan

October 29th, 2008 by jdrudolfp2

Manusia dan hasratnya bagaikan sebuah koin dengan 2sisi mata uang, yang berbeda dan selalu bersama-sama. Yang sisi muka menampilkan kesehariannya sedangkan sisi belakang: hasrat pribadinya, tertutup untuk umum namun dominan dalam kehidupannya, faktor yang melatarbelakangi setiap pemikirannya, keputusannya dan angan-angannya. Terkadang angan-angannya berbenturan dengan nilai etika dan sosial di Masyarakat, sehingga terjadi konflik internal yang berkecamuk di dalamnya. Orang psikoanalisis kira-kira bilang begini itu sebenarnya adalah si Id, ego dan Superego; Id=sisi belakang mata uang, ego=sisi muka dan Superego=nilai etika & sosial.

Pada kenyataanya ketiga hal ini, hampir selalu berbenturan dan yang paling menderita adalah si sisi muka mata uang yang selalu dalam kondisi dilema, antara menuruti hasratnya dengan mematuhi nilai-nilai norma yang berlaku ataukah pemenuhan hasrat dalam dirinya. Sebuah contoh nyata saya tampilkan se-diplomatis mungkin kepada pembaca, untuk melindungi persona nyata dari kasus tersebut.

2 Hari terakhir ini saya mengikuti sebuah pertemuan besar salah satu badan pemerintah, yang dihadiri para pemangku jabatan di daerah, propinsi, pusat dan NGO/LSM. Membahas koordinasi masalah teknis badan tersebut dan rencana kerja di masa depan. Singkatnya ‘konsolidasi’.

Diawali dengan seremonial yang simbolis dan membosankan, saya mulai merasa risih dan terasing. Dilanjutkan dengan pembahasan masalah peraturan presiden, menteri dan Peraturan pemerintah lainnya. Presentasi ditampilkan dari pemerintah pusat tentang contoh-contoh permasalahan regional dilanjutkan dengan anjuran pengembangan status kelembagaan, demi fungsi dan kewenangan lintas sektoral yang semakin besar. Wah pokoknya NGUANTUKkk buanget.. dah.

Giliran pembahasan pendanaan pusat ke daerah dalam bentuk dana Dekonsentrasi yang kami sering singkat jadi Dekon, dan DAK (Dana Alokasi Khusus) saya mulai antusias. Dekon untuk propinsi sedang DAK untuk DaTi II alias Kabupaten/Walikota. Disinilah mulai terlihat sisi belakang koin itu, sang Id.

Para delegasi pejabat yang datang dari daerah PemKab/Kot mulai gelisah di tempat duduknya masing-masing. Sebelah kanan saya kebetulan termasuk orang lama, yang sangat piawai dalam menyembunyikan maksud terselubungnya yang terakhir-terakhir di penghujung acara diakuinya kepada saya. Masing-masing dari mereka mencari cara bagaimana untuk dapat memanipulasi pengetahuan, cara pandang, definisi dan peruntukan dana tersebut. Singkatnya.. semua orang mulai kreatif, karena ada dorongan alamiah dari dalam dirinya untuk memperjuangkan Id nya.

Pengetahuan psikoanalisis ini semakin terasa kebenarannya di alam nyata, sesuai dengan yang tertulis dalam textbook yang sudah sebulan ini tidak kunjung selesai juga saya baca (halaman 480-an dari sekitar 700-an). Awalnya saya tidak begitu percaya dengan teori yang Sigmund Freund cetuskan dengan Id, Ego dan Superego. Namun ternyata semua ketidak percayaan saya sirna.

Telah terjadi perselingkuhan antara: yang tadinya Id-Ego, menjadi Ego-Superego dan terakhir-terakhir menjadi Id-Ego-Superego, alias poligami. Hahaha.. jadi seru nih.

Sang Id, mendorong Ego untuk berkreasi dan memotivasinya, lebih dari ambang batas kemampuan normalnya, untuk menjadi semakin kreatif dalam mencari cara untuk mendapatkan yang diinginkan Id, yang tidak lain adalah pemuasan hasrat terdalamnya, nafsu alaminya. Dibuktikan oleh kolega disamping kanan saya, yang menyatakan bahwa harus ada kompensasi dalam bentuk finansial bagi orang sini akibat ulah orang sana. Beliau mengangkat tangan untuk bicara, ketika sesi tanya jawab/diskusi dibuka.

Tapi apa yang terjadi?

Si penanya, kita sebut saja Joy, memutarbalikkan perkataan lidahnya yang pada awalnya sangat hangat dan antusias menjadi hambar dan diplomatis sarat dengan konsentrasi kesantunan berbicara dalam forum besar. Saya cukup salut dan bangga atas kemampuan berbicara diplomatisnya pada beliau. Saya bilang “saya perlu banyak belajar nih dari kediplomatisan halusnya” dan dia pun tersenyum. Walaupun setelah beberapa hari kemudian, saya sadar bahwa maksud pernyataan itu sebenarnya untuk menyindir kemunafikan beliau.

Disebelah kanan Joy adalah Fian, dia termasuk orang yang lebih muda dan cara bicaranya meletup-letup layaknya darah muda pada setiap demonstran di jalanan. Setiap kali dia berusaha memperhalus gaya berbicaranya orang mendengar desahan napas tidak teraturnya pada loudspeaker, seakan-akan aksinya tersebut bukanlah sesuatu yang normal. Namun saya cukup paham dan kagum melihat integritasnya dan lalu saya bilang: “Janganlah destruktif seperti itu, hendaknya kritikan itu yang konstruktif”.

Fian adalah contoh nyata individu yang tidak mampu berselingkuh, berpoligami, mendamaikan Id-Ego-Superego nya.

Adakah saya seperti dia? ataukah saya mulai seperti Joy..

Agak-agaknya pembaca sudah tau saya termasuk kategori yang mana diantara keduanya. Hehehe… Lingkungan memang sangat mampu merubah kepribadian asli seseorang.

What do you think?

Some things are better left undone..

October 6th, 2008 by jdrudolfp2
Life lesson

Life lesson

Few years ago, i sat in a large hall full of young people about my age, most of them are european, some asian and a minority of african-descent. I asked GOD that evening while enjoying my dinner alone: “Of all the hundreds of millions of young people about my age in your possesion oh LORD, can there really be one for me?”

Anxiety, loneliness, independency in all intertwined and stirred my feelings at that time as i look at the variety of GOD’s creation in front of me all beautifull, unique and marvellous.

Beside that previous thought, I had many plans inside my head for the future, yet a single blow of unexpected change in my life could ruin all, women for an instance.

Once i took a european spousse with their intelectual, independency and stiffness character accompanied with a vision of financial stability and an exquisite future wellfare prospect awaits before my eyes. Although it seems a good thing to pass, i realized that i would be endagering my own identity, culture and long-standing haritage of my father’s and my forefather’s inherited unto me.

On the other side if i took my fellow kin, that is a woman from the country where i was born and raised, with the same culture as well as ways of thinking, i found it hard to implement the plan. First, we will be torn between two worlds apart. Secondly, i sense the change in how i look things, quite differently than i had before i went to study to Germany. The Germans most successfully change my thoughts and thus my character indirectly using the powerfull mean of brain-wash technique ‘education’. I am becoming more apathy to other peoples want of small talks, strong-comunal bonds, eagerly changing to an egoist and self-centered person who freely speaks his own mind before people of various stages of life (age). This in turn could be fatal, as it is proven by my previous unsuccessfull marriage proposal and plans, at least in my point of view. Eventhough in reality the failure itself are in fact complicated by various other reasons from many sides, coming not only from me.

This i evaluate thoroughly.

And after that failed mariage plans i had a strong spousse-candidate of my fellow citizen yet from different culture. At first we enjoy the initiation phase of loving and be loved. But i am too aware that this happiness would soon vanished before i knew it ended. Although i expressed my intention as sincere, i prompt her the question..”If you would be my partner for life, would you integrate yourself and be a part of my large traditionall family and become one with me as well as to them?”. Since it is such a waste to have the question asked after we are too deep enthralled in mixed feelings of romantism and such in the future, only to realize that it can’t be true and doomed to end. She, feeling unready and not mature enough, refuses to such compromise natural to the society at the time. And thus it ended.

Later on i am in pursue of many elligible bachellourettes from different part of cities, even distant city from a different island. Spreading networks as wide as Germany and Indonesia. I got several promising ones and others not so promising ones. When in fact, the person came to light is actually living not far from the neighbourhood and quite close in the family, that is the same familyname as my mother, although not a close relative.

We started as foreigners introduced by a common person, talked by phone, exchages humors, threw a few small insults, quarrel through various themes, and finally came to realize that we are attracted to each other. Then it envelopes to a romantic relationship completed with the ingredients of physical as well as psychological aspects of love.

Then one day she made me knew her deepest thoughts, that she is bewildered and astranged at the same time of the occuring changes she felt, unknown by her just months ago, yet so vivid in her now. She was almost ready to jump into a vast ocean of professionalism and career and threw herself to the harsh condition her dreams might offer her, without even given much thorough thought into it, before she met me. And now all she want is to start her own business and dedicate her life for her future family.

What a thought, what an ideal person to start a family with, i said to myself silently. Then i answered her this: “So is men, time changes him. Your just experiencing maturity phase changes. Just relax and enjoy yourself for its HIS gift, HE considers you ready to have the experience and thus be thankful”

And she answers “I love you” and i replied “I love you too dear” with a smiley face, yet with a thought of melancholy of the possiblity of our future.. not knowing whether its a positive one or still a negative one as HE had done for me previously. Some things are better left undone… For only HE who works with strange ways who ruled and know what is best for me. I entrusted my life and thus I relinquished all unto THEE.. oh LORD, GOD ALMIGHTY.

Kehidupan setelahnya

August 25th, 2008 by jdrudolfp2

Tomb_la_pere_lachaiseTulisan ini mungkin saja akan membuat beberapa kalangan atau sejumlah orang tidak nyaman, sedih dan takut, namun biarlah.. suatu saat kita juga akan kesana.

Ketika saya masih kecil, kira-kira kelas 4SD, Ompung (kakek) saya meninggal pada umur sekitar 70 tahunan. Kala itu orang tua saya tidak menjelaskan kenapa beliau meninggal. "Yah memang karena ompung sudah tua Amang (panggilan sayang untuk anak lelaki)" kata mereka. Tidak beberapa lama kemudian kami sekeluarga meninggalkan Jakarta dan pulang ke kampung untuk menghadiri prosesi pekuburan beliau.

Ompung doli (kakek) yang saya kenal hanya satu, yaitu Ompung doli Napitupulu (dari sisi keluarga Mama). Berhubung Ompung doli dari bapa saya sudah meninggal sejak bapa kira-kira kelas 2 SD, karena kecelakaan kendaraan bus yang juga merupakan usaha yang beliau baru rintis.

Ompung doli Napitupulu tinggal di Balige, persis di pinggir pantai danau Toba. Sejuknya udara, bersihnya langit biru dan perahu-perahu yang sibuk bongkar muat hasil tani dari Pulau Samosir memberi ciri khas terhadap tempat itu. Ompung doli memiliki saudara laki-laki lebih muda yang berprofesi sebagai nelayan, paman-mama saya itu memiliki sampan kecil yang saya masih ingat hingga saat ini. Suatu hari beliau saya lihat merapat ke darat, dengan tenangnya beliau duduk di dalam sampan sambil mengayunkan dayungnya ke kiri dan ke kanan. Takjub dengan apa yang saya lihat saya bertekad mencobanya dengan tangan saya sendiri. "Pluysh" perahu langsung terbalik persis ketika saya dengan begitu percaya dirinya mencoba duduk didalam sampan ompung doli muda. "Hahahaha" habis-habisan saya ditertawai. Saya tidak sadar kala itu bahwa dibutuhkan keseimbangan badan yang terlatih untuk menguasai sampan kecil itu.

Sore harinya diadakan pesta mengundang handai taulan sekampung untuk membuka prosesi pemakaman ompung doli. Ibu-ibu berjalan berbaris sambil membawa Tandok (kantong beras tradisional batak dari anyaman daun pandan) di atas kepala mereka tanpa dipegang, memakai Ulos bercorak warna warni berikut dengan rumbai-rumbai benang khas kain tenunan batak. Saya pun ‘terperangah’ melihat atraksi mereka berjalan masuk tertib ke dalam rumah Ompung doli.

Di samping rumah Ompung doli terdapat pasar sayur mayur menjajakan bahan makanan yang hanya buka di hari jumat sehingga penduduk setempat menyebutnya ‘Pokkan Jumahat’. Hari itu pasar tidak buka, dan dimanfaatkan oleh para tetangga dan saudara sekampung untuk memasak. Dekat salah satu tiang penyangga gedung pasar tersebut terikat kerbau besar abu-abu kelam, dan tidak jauh dari sana beberapa ban mobil yang sedianya akan dimasukkan kedalam bakaran kayu api yang sudah menyala untuk memasak daging kerbau tersebut. Selain itu ada dalam kurungan anyaman rotan babi putih yang besar, penduduk setempat bilang itu  adalah babi australi karena kulitnya yang putih, juga akan disantap pada pesta tersebut.

Lebih dahulu kerbau tersebut dipotong. Beberapa orang memegang tali yang sudah ditambatkan ke kepala, tanduk dan badan kerbau, kemudian golok tajam menyayat leher kerbau yang seketika mengucurkan darah merah yang jatuh tertampung ke dalam kuali yang sudah disediakan dibawah kepala kerbau tersebut.

Di dalam rumah orang ramai berkumpul berbincang-bincang, protokoler berteriak memanggil khalayak dan kaum muda menari tor-tor diiringi musik gondang nan meriah. Bagi orang batak, seseorang yang meninggal dengan memiliki keturunan bercucu.. wajib di pestakan dengan meriah sekampung, apalagi jika sudah memiliki buyut/cicit.

"Ai anak ni si Kia do ho? (Kau anaknya si Kia ya?)" tanya seorang ibu yang saya tidak kenal, saya terdiam dan tidak tau harus menjawab apa. Lantas ibu tersebut menanyakan rekan disebelahnya yang kebetulan kenal dengan ibu saya. Belakangan baru saya mengerti bahwa Kia adalah panggilan kecil ibu saya. Wajar saja, bagi kami adalah pantang untuk menyebut nama orang tua apalagi mengetahui nama kecil mereka..

Kemudian akhirnya Ompung doli, yang sudah terbujur kaku di dalam peti kayunya, diprosesikan oleh seorang pendeta untuk dimasukkan ke dalam kubur.

Sepuluh tahun kemudian, saya pulang kampung untuk berziarah ke makam Ompung boru (Nenek) dari sisi Bapa yang meninggal beberapa tahun setelah Ompung doli. Setelah berziarah ke kuburan Ompung boru kami pergi ke kuburan Ompung doli Napitupulu.

Kuburan tersebut tidaklah kelihatan seperti tempat orang dimakamkan, lebih kelihatan seperti rumah tinggal orang, yang cantik ditata dengan taman dan tembok berwarna putih-hitam dan dengan ukiran cat merah, berpagar dan berpintu besi. Atapnya melengkung seperti rumah tradisional orang batak dan di tembok depannya tertulis:

Dison maradian Ompu Jumagar Napitupulu - br. Siahaan

berikut dengan tanggal kematian dan kelahirannya. Bapa yang waktu itu ikut, memerintahkan kami untuk berhenti sejenak untuk masuk dan merawat rumput-rumput dan menyirami bunga di pekarangan depannya.

Sekarang Bapa terkulai lemas oleh karena kanker Lymphoma Malignant yang dia derita oleh karena kebiasaan buruknya yang sama dengan Ompung Doli, merokok! Bedanya, Ompung doli merokok rokok kretek Commodore sedangkan Bapak Dji Sam Soe. Badannya semakin hari semakin kurus dan menipis digerogoti oleh penyakitnya itu. Segala macam pengobatan mulai dari operasi, chemotherapy, herbal, sinar sudah ia coba, namun tidak pernah ada yang tuntas.

Terkadang terjadi komplikasi pada saluran pernafasannya oleh karena letak ‘massa’ kankernya yang persis di leher di bawah dagunya dekat kuping. Sekali waktu ia sulit bernafas karena terbentuk lendir di saluran hidungnya, itulah kali kedua beliau di operasi setelah pengangkatan massa kankernya yang pertama itu.

Dikarenakan oleh umurnya yang sudah senja itu dan kanker yang menyerang sistim imunitasnya beliau lambat untuk kembali sadar dari masa kritis setelah operasinya. Yang terparah, ketika beliau hendak mengganti bajunya yang sudah basah dan kotor, meski saya dan mama saya berdua menjaga beliau namun terjadi juga hal yang tidak diinginkan, beliau terjatuh oleh karena lemas tak bertenaga. Tubuh bagian depan menghadap tanah dengan muka terjerembab agak menyamping. Kontan saja beliau masuk ruang Intesive Care untuk memperoleh perawatan yang lebih lanjut.

Nafasnya yang tidak teratur, lidahnya yang seringkali terjatuh menutup saluran pernafasan oleh karena ketidaksadarannya, membuat kami semua terjaga 24 jam. Entah dengan pemikiran manusia yang mana beliau sampai sekarang masih juga bertahan. Mungkin karena doa-doa kami dan keluarga serta semua orang yang kenal beliau di gereja ataupun di masyarakat, sampai saat ini beliau masih bertahan, kembali sadar penuh setelah 4 bulan sejak hari masa kritis itu berlalu.

Sejenak saya teringat akan film lepas yang menggambarkan tokoh yang abadi. Adalah lumrah keinginan semua manusia untuk tetap muda dan tidak menua, tapi film tersebut menyajikan sisi pemikiran yang lain, ia menyadarkan kita bahwa menjadi abadi adalah hal yang paling menyakitkan. Sebab disana digambarkan bagaimana sang tokoh tersebut harus melalui patah hati demi patah hati oleh karena ditinggalkan oleh kekasih hatinya yang pergi ke alam baka. Sehingga hidupnya hanya berisi kesedihan dan kekosongan akibat ketidakrelaannya untuk jatuh cinta dan menikah lantas harus kehilangan orang yang dicintainya lagi.

Suatu saat saya pasti mati, entah teman-teman sebaya saya terlebih dahulu pergi ataupun keluarga dekat saya tidak tahu. Hidup saya hanya seperti uap air yang seketika hilang setelah mengambil rupa. Pun jika saya mati saya tahu kemana saya pergi, karena rumah saya bukanlah berasal dari dunia ini melainkan sesudahnya, saya hanyalah musafir, menumpang, penduduk dunia sesaat yang hanya memenuhi bumi yang sudah penuh sesak ini, kembali kepada pencipta sama seperti kemana Bapa saya akan pergi. Surga dimana TUHAN YESUS dan BAPA SURGAWI berada.

Of this i am sure!

Sekarang pertanyaanya kepada anda…

Tu dia ho dung mate ho? (Kemanakah engkau setelah engkau mati?)

-J.D.R. Panjaitan- Banda Aceh, 15:30 Senin, 25.08.2008

Linguistik batak ‘Par’

August 14th, 2008 by jdrudolfp2

Beberapa minggu yang lalu ada pesta orang batak se-Eropa bertempat di Jerman Utara, di kampung halaman nya Nomensen, missionaris jerman yang tidak hanya dikenang sebagai pengabar injil bagi orang batak tapi rasul ke-13 nya orang batak, nama kampungnya ‘Nordstrand’. Acara ini diikuti oleh berbagai komunitas batak dari berbagai negara di Eropa. Kesuksesan acara tersebut dipublikasikan di koran di Indonesia. Cuma sayang karena sifatnya yang ke’suku’an maka koran yang meliput juga bukan koran nasional tapi koran regional ‘Waspada’ di Sumatera Utara.

Tidak disadari oleh beliau (Ompui Nomensen, sebutan mesra sekaligus kehormatan oleh orang batak untuknya) bahwa karyanya sekitar 125 tahun yang lalu tidak hanya merubah kerohanian segelintir orang yang dia misionariskan, yang sebelumnya adalah penyembah dewa dan leluhur (layaknya orang Cina) tetapi lebih dari itu.

Masyarakat batak yang dulunya terkenal ganas (kanibal: pemakan manusia), suka berperang dan berkelahi, mengagung-agungkan ilmu mistis seperti kekebalan tubuh, menghilang dan lain-lain, sekarang berubah menjadi masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi pendidikan, perantau yang tahan banting dan suka tantangan.

Konon menurut orang bijaksana: "jika anda ingin mengenal suatu bangsa berikut dengan  budaya dan adat istiadatnya maka tiada cara yang lebih efektif daripada mempelajari bahasanya". Ada satu artikel linguistik yang sangat menarik yang saya dapatkan dari maillist HiMaBoni (Himpunan Masyarakat Batak Bona Ni Pasogit) yang bermarkas di Frankfurt, Jerman. Organisasi yang sama, yang daripadanya saya memperoleh informasi tentang pesta batak di Nordstrand tersebut diatas.

Artikel ini sangat unik, karena ia mengajak otak kita untuk berfikir dan menganalisa fungsi dan latar belakang penggunaanya, yang sedikit banyak akan membawa pengertian kepada para pembaca akan adat batak yang abstrak –> menjadi sesuatu yang mudah dipahami dan sederhana. Selamat menikmati..

Tentang”Par’ ‘

Oleh :Mula Harahap

Saya bukan ahli linguistik. Saya tidak tahu apakah "par", yang kita
kenal dalam bahasa Batak itu, adalah sebuah kata sandang,  kata
penghubung atau kata apa. Tapi yang jelas "par" banyak dipakai
mendahului kata-kata yang menerangkan tempat, pekerjaan, kebiasaan
dan hal-hal lainnya, sehingga membentuk sebuah julukan, panggilan
atau identitas diri.

Ketika saya masih kanak-kanak, maka ada seorang "ompung" yang kami
kenal dengan "Par Paret Busuk". Nama "ompung" itu sebenarnya adalah
Koradin Siregar. Tapi memanggil nama seseorang—apalagi yang telah
menikah—di kalangan orang Batak adalah sesuatu yang tabu. Karena itu
orang yang telah menikah akan dipanggil sesuai dengan nama anaknya,
nama cucu pertamanya, profesinya atau tempat tinggalnya.  Semestinya
Ompung Koradin Siregar dipanggil dengan "Ama Ni Si Ros".  Tapi entah
mengapa, semua keluarga lebih senang memanggilnya dengan sebutan
yang berkaitan dengan tempat tinggalnya.

Ompung Koradin tinggal di wilayah sekitar Gang Sado—Medan dimana
terdapat sebuah kali yang mati dan berbau tak sedap. Oleh orang-
orang di seantero Medan,  wilayah itu  dikenal sebagai "parit
busuk".  Begitulah, Ompung Koradin Siregar pun dipanggil
sebagai "Par Paret Busuk". ("Bah, `ta painte ma jo Par Paret
Busuk…." atau "Ise do na pabohahon barita on to Par Paret
Busuk?"). 

Sepanjang yang saya ingat, hanya ayah sayalah yang tak pernah
memanggil "ompung"  tersebut dengan julukan "Par Paret Busuk". Hal
ini bisa saya maklumi. Ompung Koradin adalah "tulang" ayah saya.
Hanya "bere" yang durhaka sajalah yang tega memanggil "tulang"-nya
dengan "parit busuk". Karena itu ayah saya selalu menyebut "tulang"-
nya, yang usianya nyaris sebaya dengannya itu, sebagai "Par Jalan
Istana". Dahulu, sebelum pindah ke wilayah Paret Busuk, Ompung
Koradin memang tinggal di sebuah asrama tentara di depan Istana
Maimoon—-Medan. Dan jalan yang melintasi Istana Maimooon itu,
sebelum menjadi Jalan Brigjen Katamso,  dikenal sebagai Jalan
Istana. Sebagaimana layaknya seorang "bere" yang baik, maka—walau
pun sebutan yang digunakannya sudah tidak relevan lagi—wajar saja
kalau ayah tetap memanggil "tulang"-nya dengan "Par Jalan Istana".

Nama jalan atau wilayah dimana seseorang bermukim sering dipakai
menjadi sebutan atau julukan bagi yang bersangkutan. Dahulu, ketika
kami bermukim di Kampung Baru—-Medan, maka kami disebut orang
sebagai "Par Kampung Baru". Tentu saja yang bermukim di Kampung Baru
tidak hanya keluarga Harahap. Di sana ada keluarga Panjaitan,
Napitupulu, Sihombing, Simorangkir dan sebagainya. Dan saya percaya,
di tengah keluarga masing-masing, mereka juga akan disebut
sebagai "Par Kampung Baru".

Persoalan akan timbul bila di dalam sebuah kumpulan ada sanak famili
Harahap dan ada sanak-famili Panjaitan, atau Napitupulu dsb. Maka
untuk memperjelas siapa "Par Kampung Baru" yang sedang dibicarakan, 
perlu ditambah embel-embel lain. ("Oh, Si Harahap Par Kampung Baru
do maksud muna?!").

Semua orang tentu senang kalau sanak-familinya tinggal di sebuah
jalan atau wilayah yang bergengsi. Karena itu, dalam sebuah
percakapan, kita selalu akan menekankan kata "Par Pondok
Indah", "Par Simprug" atau "Par Permata Hijau" dengan suara yang
lebih keras.

Acapkali kali pula, "tulang", "amangboru" atau "amangtua" yang kita
kasihi itu tinggal di Pasar Rumput (wilayah perbatasan dengan
Menteng), atau Rawa Kerbau (wilayah perbatasan dengan Taman Solo).
Tapi dengan mantap kita tetap akan menyebut "tulang", "amangboru"
atau "amangtua"  itu dengan "Par Menteng" atau "Par Taman Solo".

Hal yang lebih membahagiakan lagi adalah kalau "tulang", "amangboru"
atau "amangtua" itu menetap di sebuah jalan yang memang tersohor
sebagai tempat pemukiman masyarakat kelas atas Jakarta. ("Par Jalan
Imam Bonjol", "Par Jalan Sutan Sahrir" atau "Par Jalan
Cokroaminoto" ). Walau pun jalan-jalan tersebut berada di wilayah
Menteng; tapi–alih-alih menyebut mereka sebagai "Par Menteng"–
rasanya akan lebih enak menyebut mereka  sebagai "Par Jalan Imam
Bonjol"  Wow!

Besar kemungkianan hanya "tulang", "amangboru" atau "amangtua"
itulah satu-satunya orang Batak yang bermukim di sepanjang jalan
tersebut. Karena itu kita tak perlu lagi repot-repot mengklarifikasi
lebih jauh dengan—misalnya—Simanjuntak Par Jalan Imam Bonjol atau
Panjaitan Par Jalan Imam Bonjol.

Harus kita akui pula, kadang-kadang ada nama jalan yang tidak sedap
terasa di telinga; misalnya Jalan Haji Kontong di bilangan Pasar
Minggu—Jakarta. Dalam hal ini tentu akan lebih bijaksana
menyebut "tulang", "amangboru" atau "amangtua" itu sebagai "Par
Pasar Minggu"; alih-alih menyebutnya sebagai "Par Haji Kontong".

Semua kami yang bermukim di Jakarta akan dirujuk sebagai "Par
Jakarta" oleh sanak-famili yang bermukim di Sipirok. Sebaliknya,
semua sanak-famili yang bermukim di Sipirok akan dirujuk
sebagai "Par Sipirok" oleh kami yang bermukim di Jakarta. ("Ai sahat
do boa-boa i tu Par Sipirok?").

Dan begitulah, beberapa hari yang lalu saya melihat sebuah metromini
melaju dengan cepat di bilangan Cempaka Putih—Jakarta. Di kaca
jendela bagian belakang dari metromini tersebut ada tulisan dengan
huruf besar-besar: "Par Bariba Ni Tao". (Sampai sekarang saya masih
belum bisa menebak dimana wilayah yang disebut sebagai "sebelah
sononya Danau Toba" itu….).

Saya pikir-pikir, "par" itu bisa diterjemahkan sebagai "sesuatu yang
bersangkut paut dengan…." atau "something to do with….". Karena
itu, dalam banyak kasus, "par" juga bisa mendahului keterangan
tentang pekerjaan seseorang.

Kami memiliki seorang "tulang" yang pernah berdinas di Bakin (Badan
Koordinasi Intelijen Nasional). Wajar saja kalau "tulang" tersebut
disebut sebagai "Par Bakin". Tapi disamping "Par Bakin" maka kami
masih memiliki sederetan "tulang" lagi, yaitu "Par Pe-eL-eN", "Par
Motor Tangki" dsb. "Tulang" yang disebut terakhir ini—tentu saja—
bukan "tauke" dari beberapa mobil tangki. Ia adalah supir dari
sebuah mobil tangki dan bermukim di Tanjung Morawa—Sumatera Utara.

Tugas-tugas pelayanan di gereja juga sering dipakai sebagai julukan.
Amanguda saya Pasaribu–yang kini sudah meninggalkan dunia ini–
karena pelayanannya di HKBP Pulomas—Jakarta, dahulu dikenal
sebagai "Par Poti Marende".

Seseorang yang rajin membaca Alkitab dan yang tak pernah menolak
ketika didaulat untuk berdoa atau membawakan firman Tuhan akan
disebut sebagai "Par Hata Ni Debata". ("Lok ma nasida mamboan
tangiang. Ai Parhata Ni Debata do nasida…" Lalu mendengar julukan
yang demikian, maka kita  "Par Ganja-ganja" dan "Par Bola Sodok" ini
pun jadi tertunduk malu…….. ).

Tapi pekerjaan, profesi atau pangkat seseorang tidak selalu pula
harus dikaitkan dengan "par".  Adakalanya– apalagi kalau pekerjaan
atau pangkat tersebut terkesan hormat–ia cukup dikaitkan
dengan "si".  Begitulah, maka kami memiliki "tulang" yang dipanggil
dengan "Si Tekab"; karena beliau pernah berdinas sebagai reserse
atau anggota "tim khusus anti banditisme".

Seorang adik saya, yang berprofesi sebagai pendeta, tak pernah
disebut orang sebagai "Par Bekasi" sebagaimana layaknya daerah
tempat dia bermukim. Entah mengapa, orang lebih senang menyebutnya
sebagai "Si Pandita".

Pada jaman dahulu ketika kepangkatan di TNI/Polri belum
mengalami "inflasi" seperti jaman sekarang maka komisaris besar
adalah pangkat yang sungguh "wah". Hanya ada beberapa orang Batak
yang disebut sebagai "Si Kombes". Tapi kini sebutan "Si Kombes"
sudah jarang terdengar. Ini bisa dimaklumi karena di setiap Polda
ada puluhan "kombes" orang Batak. ("Si Kombes dia do maksud
muna?").  Karena itu, kini yang sering terdengar adalah "Si
Jenderal". Walau pun dari Brigadir Jenderal hingga ke Jenderal
terdapat empat jenjang kepangkatan, tapi belum terlalu banyak orang
Batak yang mengemban pangkat-pangkat  tersebut. Sebutan "Si
Jenderal" masih tidak merepotkan dan memerlukan klarifikasi lebih
jauh. Hanya ada beberapa rumpun keluarga yang "dianugerahi"
jenderal. (baik yang masih aktif amupun yang telah pensiun) .

Begitulah, disamping "Si Tekab", "Si Kombes" atau "Si Jenderal",
setiap rumpun keluarga Batak akan memiliki "Si Syahbandar", "Si
Kapiten" (Nakhoda), "Si Kapala Negeri", "Si Manteri Garam" dan "Si
Toke"-nya masing-masing.

"Par", "sesuatu yang bersangkut-paut dengan" atau "something to do
with" juga acapkali dikaitkan dengan  karakter atau ciri fisik
seseorang.

Dahulu ayah saya mempunyai seorang "namboru" (saya
memanggilnya "ito") yang dikenal sebagai "Par Logu Lima".
Sebenarnya "ito" saya ini—Maryam boru Harahap—bisa saja dipanggil
dengan "Omak Ni Si Mulia" atau "Ompung Ni Si Norma". Tapi rupanya
orang lebih suka memanggilnya berdasarkan kelainan atau
kekurangannya  dalam hal tarik suara. Kalau ada acara menyanyi di
tengah  kumpulan keluarga, "ito" saya selalu menyanyi dengan suara
yang "entah ke mana" dan membuat orang geleng-geleng kepala atau
tersenyum mesem-mesem. Jadilah ia "Par Logu Lima"….

Sama halnya seperti "Par Logu Lima", maka kami juga
memiliki "ompung" yang dikenal dengan "Par Atap Seng".  Dahulu saya
menyangka bahwa "ompung" tersebut mendapat julukan demikian karena
rumahnya  memakai atap seng. (Saya pikir "ompung" tersebut sama
seperti "Tulang Marga Sitanggang" dalam lagu "Beta Hita Martandang"
yang memiliki rumah "martangga simin i" dan seorang boru "rambut
kariting i’…). Ternyata "ompung" tersebut dijuluki "Par Atap Seng"
karena sejak mudanya ia sudah memiliki  kepala yang putih dan penuh
uban.

Greg Norman, Jack Nicklaus atau Tiger Woods—kalau saja mereka orang
Batak—tentu mereka akan dipanggil sebagai "Par Golof". Atau,  karena
kehebatan mereka dalam bermain–sehingga selalu berhasil memasukkan
bola beberapa point di bawah jumlah pukulan standar yang maksimal–
maka mereka pasti akan disebut sebagai "Par Dua Di Bawah Par". He-he-
he.

Ada pun saya sendiri, ketika saya masih tinggal di rumah instansi di
bilangan Cempaka Putih Timur, kadang-kadang- -ehem–oleh "amangboru"
saya (yang selalu bangga dan hormat pada saya) selalu dipanggil
sebagai "Par Taman Solo". Dan oleh teman-teman "parsahutaon" di
Cempaka Putih Timur saya dipanggil sebagai "Par Be-Pe-Ka"; singkatan
dari BPK Gunung Mulia—perusahaan dimana saya bekerja.

Tapi cilakanya, setelah berhenti dari BPK Gunung Mulia dan tidak
lagi tinggal di Taman Solo, saya tak pernah lagi mendengar sebutan
yang "sedap" dan "manis" di telinga itu.  Karena itu, di dalam hati
saya selalu berkata kepada diri sendiri, "Par….rah kali-lah hidup
ini…"

Dark brown Raven and his Quest (2)

August 13th, 2008 by jdrudolfp2

Dove_house…At one time, the Raven was aware that some significant change had occur in his ways of thinking. In the past he doesn’t quite understand what his cognitive strength was, it all seamed the same to him, thus finding himself in a state of indolence to the abstract thought that roamed inside the Raven’s small brain.

Now, without realizing, he took pleasure in watching and observing various objects for a long time, not only caged to the mere fact of what is happening to the object of his observation but beyond that. He start analyzing why such things occur and seek the reason behind it. While doing so, the Raven immersed himself into an abstract-intertwined-imagination of his, sometimes forgetting completely his multi-senses that kept him alive up to this very moment. He is entering a different world, almost like a dream, a place where he usually keep most of his precious mind and ‘recollections’ together, he jolted here and there, to and fro, the knowledge that are mixed so complex in the sphere of his thought and uniquely, it possess in itself a system of organization and control so advance that even his mind could not comprehend.

Like humans who reads and thus acquiring knowledge, applied it and came to a conclusion where, hence, a firm foundation of wisdom, thereafter, would be forged and solidly grounded, the Raven too, has a unique talent almost as equivalent. His eyes peering any object, able to capture even the smallest detail: a tiny change of mimic or almost undetectable accidental gesture, or even several false signal sent to camouflage a hidden truth as in some misguided conversation. This is to what, them, the humans valued as the renowned non-verbal-language sensing capability.

This new ability, essential as it is, used by the Raven in every encounter with any observational object he could found and are very useful in finding the truth. It made him cleverer.

Sometimes the Raven, playfully as in itself his natural character, would stop still and watch and listen, or even pretending not knowing the fact and let others took every actions they deemed necessary and review the outsider’s previous actions afterwards.

In the case of that young-pretty-white, yet, stern dove of his, he sense something odd in her. The fact that the young dove hardly allow any effort he had done in order to privately engage in any approaching-gesture social-activity so familiar at the time, on the contrary, she seamed to attract him to several special occasion in a sense as of personal invitation, made him confused.

To this confusion, he sometimes seeks advise from the wise Owl, or the old bald Eagle and his relative the solemn Hawk. They are his closest and most precious ally to whom he often turns for second opinion. "One can not live completely alone in this world, and faithful friends are the best asset you’ll have", as they say..

Now, after some thorough analysis and profound investigations, he tries to recollect the memories to which the Raven and the Dove at various situations spent time together, with other individuals around (of course!). And suddenly there, struck a memory, he wishes to forget. One night the Raven found her conversing so close to another bird one of his kind, a brisk, calm and quite nice Raven he thinks. At the time he had no prejudice of what this constellation would mean, so he let the memory pass the permanent storage area in his little brain.

Secondly, he recalled that while taking a whole bunch of the young dove’s family out to an important outward journey to a place called the gathering, he remembered the young dove’ asking politely whether the brisk Raven could come together with the flock. He, the dark brown raven, accepts her request with a subtle condition that if such a place available for the brisk Raven.

Adjoining the two occurences, the dark brown Raven now, after months period of absency from the Dove, realized that the brisk Raven must have took a special place in the young-pretty-white dove of his. And so, feeling hurt, he retreated quietly and peacefully from her presence. Concentrating, later on, to a different matter very important to him at the time.

Dark brown Raven and his quest

August 12th, 2008 by jdrudolfp2

RavenMany years of close and warm upbringing of the dark brown Raven by his parents seems so vivid now in his gloomy eyes, as he float freely above a dense peaceful green pasture. The same land where he was born and grewn into what today’s stout symetrically postured and athletic Raven may appeared.

The Raven’s deep dark brown eyes glitters a sense of wisdom and radiates a tiny bit of sorrow, to which he unsucessfully covers from his surroundings.

He recently traveled a distant land, a marvelous and beautifully ordered land, where he blisfully gratefull to had been, in a way, uniquely educated unlike any other raven, or avian if you please to say, of his flock.

There he acquire the meaning of independent living unattached to any familiar, invisible yet strong-felt bondage as he once had when he was younger. Where the air seemed so free and clean, yet cold and monotonous. He observed how the birds of his comunity build their nests all by themselves without the help of any other, paired only in certain occassion, which usually after a quite considerably long age compared to his flock’s accustomed habits back home.

Strangely, eventhough the birds there were very beautiful, charming, inteligent and quite intriguing, he finds no pleasure in engaging nor initiating. He firmly knew that what the outer surface radiate may vary very differently to the inner-side it holds. This he took from many years of hunting lessons his father and mother brought and through personal sad experience he had.

By sheer chance, he found through his specialized spectacle, a very bright, sweet and good natured female dove of different species who share, too, some of his wisdom. Having decided to move nearer to her and because of other reasons hidden in his heart, he left this marvelous land and thus return home where she would also be found.

Shockingly after some moment he learn that the dove, pure as her white feather and naive as her beautiful almond shaped eyes may, has a very stern view of life. Eventhough the white dove is still young of age compared to his, she had the degree that is worst of its kind. So he decided to let her go, after having (probably) quite successfull approach. He vanished from her sight for quite a long time not leaving a single trace.

Having left her wondering why he suddenly flew into unknown skies and without any explanation, he gradually healed from the heart-torn memories and subsides. Not knowing that during which sucessfull approach period another heart has been faithfully wishing for his companionship.

The Raven’s secret admirer sent signals so subtle that it keep residing somewhere in the air not reaching his radar. Yet she persistently and patiently sending and waiting for a reply, when one day he realized that the later white dove, which actually the birth-sibling of the former, had a crush on the Raven. Guess what happens next?

Kekecewaan demi kekecewaan

August 5th, 2008 by jdrudolfp2

Dsc00225_2 Uang bukanlah segalanya kawan! Jikalau saja aku menuruti ego ku untuk melawan, nekat; seperti yang ibunda tercintaku sering peringatkan sebagai sisi burukku yang parah; cerita ini tidak akan ada.

Suatu hari Hr. Krist, kepala perwakilan bantuan Jerman menghampiriku: "Pak Panjaitan, anda bisa memberikan pembekalan materi untuk orang lab Sigli?" tanyanya. "Baiklah" sahutku.

Kala itu karirku di Banda Aceh masih berumur 2 bulan, aku baru saja keluar dari ruang seminar tentang Sanitasi Masyarakat atau "SaniMas" bahasa bekennya, yang diselengarakan gtz-slgsr (gesselschaft für technische zusammenarbeit - support for local governance and sustainable reconstruction, Badan kerjasama teknis Jerman - bidang dukungan kepada pemerintahan lokal dan pembangunan kembali yang berkelanjutan).

"Tolong bicara dengan Hr. Kreuzberg mengenai pendanaan hal ini kemudian bahas proposalnya dengan pak Doni" instruksinya.

Pak Doni atau Max Doni Idris Kamil Ph.D. lebih tepatnya adalah staf ahli, tangan kanan Hr. Krist, sekaligus dosen bidang lingkungan di ITB. Sedangkan Hr. Kreuzberg, Dr. Michael Kreuzberg lengkapnya, adalah orang ded (Deutscher EntwicklungsDienst, dinas pelayanan pengembangan Jerman) adalah konsultan Jerman yang dikirimkan dari Jakarta untuk membantu perkembangan pembangunan kabupaten Aceh Besar dan bidang lingkungan Bapedalda Sigli.

Tidak lama kemudian di dalam kantor pak Doni pembahasan mengenai proposal program pelatihan tersebut dibicarakan. "Pak Panjaitan anda harus mencantumkan semua biaya secara terinci termasuk provision cost anda di dalam proposal" ujar pak Doni.

"Pak kalau boleh saya mau lihat format proposal terdahulu, agar saya dapat merancang seperti apa bentuknya dan biaya profesional saya tidak ketinggian saya taruh" usulku. Lalu beliau membuka-buka arsipnya yang lalu dan mem-forward-nya kepadaku via email.

Segera setelah itu aku telepon Hr. Kreuzberg mengenai rinciannya. Lalu aku buat janji untuk bertemu dengannya sore itu setelah pulang kantor di lobi kediamannya Hotel Medan jam 18 sore. Tepat waktu, aku datang dan menginformasikan keberadaanku melalui telefon lobi kepadanya. "Aku segera turun ke Lobi" sahutnya dalam bahasa Jerman diujung yang lain.

Singkat cerita, terkuak bahwa Hr. Krist sudah menjanjikan membantu kantor Bapedalda Sigli untuk mengembangkan laboratorium pengawasan lingkungannya, lantas ded yang masih memiliki dana cadangan mungkin bisa menggunakannya untuk membeli bahan-bahan kimia untuk memperlengkapi perkakas lab yang masih belum ada. Berhubung dana gtz untuk Indonesia telah dialihkan ke daerah operasi Asia Selatan, jadi gtz-slgsr tidak memiliki dana yang dibutuhkan untuk melaksanakan program pelatihan tersebut.

"Mungkin masih bisa ded mengalokasikan dana max €10,000 untuk program pelatihan dan pengadaan bahan kimia serta kelengkapan peralatan lab Bapedalda Sigli, tapi anda harus terlebih dahulu merinci alat dan bahan kimia apa saja yang dibutuhkan mereka" ungkap Dr. Kreuzberg.

"Baiklah kalau begitu saya akan melakukan tinjauan sebagai tahap awal di tanggal 24-25Juni ini ke Sigli, setelah itu saya akan susun laporan dan usulan pengadaan kelengkapan alat lab seperti yang anda butuhkan agar bisa diajukan ke kantor pusat di Jakarta" jawabku.

Dengan serius dan sesegera mungkin aku kerjakan proposal ke gtz-slgsr dan usulan pengadaan ke ded secara paralel. Beberapa hari kemudian proposal untuk gtz-slgsr untuk lab-assesment selesai, langsung aku telp Hr. Krist via HP. "Langsung saja berikan kepada sekretaris saya pak Panjaitan" ujarnya. Tanpa berpikir macam-macam aku berikan proposal terperinci 3halaman tersebut kepada sekretarisnya.

Tanpa praduga atau pertanda apapun aku sampaikan ke sekretarisnya secara pribadi. "Pak Panjaitan ini untuk apa?, tanggal berapa?, rincian biayanya mana?, ini tidak bisa seperti ini formatnya" ucapnya dengan gaya memerintah dan dengan nada tinggi, seakan-akan dialah bosnya dan aku hanya sekedar orang baru yang perlu diberi pengertian. Aku jelaskan kepadanya dengan sopan "Ibu semuanya sudah saya cantumkan disana, jenis kegiatan, tanggal pelaksanaan dan rincian biayanya. Ini adalah proyek Hr. Krist yang secara pribadi beliau sampaikan kepada saya untuk dibantu pelaksanaanya, jadi ibu kalau ada pertanyaan-pertanyaan detil khusus silahkan ibu langsung bicara dengan atasan ibu"

"Iya tapi kami memiliki aturan di kantor ini, biaya ini tidak bisa begini, besarannya harus sekian, dll. Saya tidak mau nanti saya menjadi bulan-bulanan oleh auditor saat mereka datang mengaudit" lanjutnya dengan nada lebih tinggi lagi. Aku sudah mulai tidak tahan dengan gaya nada tingginya, terlebih lagi dengan emosiku yang sudah mencapai ambang batas "Dengar ya Ibu, saya menyusun ini semua bukan atas prakarsa pribadi, tapi sudah terlebih dahulu berkonsultasi dengan pak Doni, dan sebenarnya yah Bu, bukan urusan saya untuk berkutat-kutat dengan urusan administratif seperti ini, saya sudah cukup pusing dengan materi bahan yang akan saya berikan, belum lagi dengan akomodasi dan lunch-snack tetek-bengeknya, jadi kalau ibu tidak suka ya sudah" dengan langkah cepat aku berdiri dan hendak beranjak pergi.

Ibu Ratna, sang sekretaris Hr. Krist yang sudah berumur (sekitar 60-an), bergegas beranjak pergi memanggil asisten sekretarisnya: bu Desi. Dengan gaya yang sama bu Desi menerangkan kepadaku "Pak, sebaiknya bapak membuat proposalnya kembali, sesuai dengan aturan, ini tidak bisa begini, itu tidak bisa begitu, bla..bla..bla.."

Kontan aku berfikir dan berkata dalam hati "Apa gunanya mereka, semua para sekretaris ini, kalau urusan administratif seperti ini saja mereka tidak bisa selesaikan?". Lalu aku jawab se-tenang mungkin (menekan emosiku yang sudah membludak) dengan nada yang sedikit halus dan berirama manis namun entah kenapa volumenya masih terasa besar (hehehe..aslinye keluar) "Ibu Desi, saya kan baru pertama kali buat proposal untuk gtz dan saya sudah berkonsultasi dengan pak Doni mengenai hal ini, jadi kalau ibu merasa masih ada banyak kekurangan atau melanggar aturan yang ada, sudah sewajarnya. Bagaimana kalau seandainya ibu mencoret angka-angka yang tidak sesuai dan menjadikannya masuk sesuai dengan aturan?" jawabku.

"Ya ga bisa dong pak, ini kan bukan kali ini bapak mengajukan proposal nanti-nanti kan bapak akan mengajukan hal yang sama. Jadi anggap aja ini latihan untuk yang selanjutnya" lanjutnya dengan gaya tanpa rasa malu. Hatiku geram dan tak tertahankan lagi "LAIN KALI? TIDAK AKAN ADA LAIN KALI, LAIN KALI SAYA TIDAK MAU!" ujar saya lantang.

Pada saat bersamaan pak Doni datang dan memberikan wejangan ke bu Desi, agar dia maklum bahwa proposal itu sudah dibahas dengannya dan bahwa itu adalah kali pertama saya mengajukan proposal ke gtz jadi tolong dibantu.

Hari itu juga, proposal pendapatan-provisional fee-ku secara sepihak dibatalkan oleh gtz-slgsr. Lantas aku mengirim sms ke Dr. Kreuzberg menyatakan ke-engganan-ku untuk melaksanakan program tersebut. Saat itu juga Dr. Kreuzberg telefon aku, masalahnya aku jelaskan kepadanya dengan halus. Kemudian dia menawarkan bahwa masih ada sumber pendanaan lain. Lantas aku tanya apakah bisa nanti aku masukkan provisional fee yang dibatalkan tersebut dalam usulan pendanaan kepada ded, beliau bilang masukkan saja.

Setelah kerja peninjauan lab assesment, aku sms lae aku yang kerja di perusahaan distribusi bahan-bahan kimia di Jakarta, menjelaskan proyek pengadaan bahan kimia dan alat-alat lab yang mungkin bisa dijalankan skala kecil-menengah (100juta). Dengan antusias si lae menelpon, aku bilang aku ingat beliau sehingga menghubungi langsung ketika ada potensi proyek pengadaan tersebut. Semua rincian bahan kimia dan peralatan yang aku cantumkan dalam proposal aku kirimi kepadanya via email.

Tak disangka, kira-kira 1 minggu sebelum pelaksanaan program pelatihan Dr. Kreuzberg telpon "Pak Panjaitan, usulan dukungan pendanaan yang kita kirim ke pusat tidak disetujui". Hatiku tersentak kaget dan aku bilang "Apa yang bisa saya katakan saat ini Dr. Kreuzberg? ya sudahlah" dengan hati lesu pembicaraan di telpon hening sesaat. Kemudian beliau bertanya "Apakah anda masih mau melanjutkan proyek ini?"

Hampir saja aku menjawabnya aku tidak lagi berminat, namun mengingat tujuan awal aku datang ke Aceh yaitu untuk mengabdikan ilmu aku menjawab sebaliknya.. "Pak Kreuzberg, saya sudah memberikan persetujuan saya, dan saya akan menghormati janji saya yang telah terucap, tetap saya akan laksanakan". "Baiklah kalau begitu" sahutnya diseberang sana.

Di hari jumat di akhir minggu itu, sebelum program pelatihan tersebut dilaksanakan kepala Bapedalda Sigli datang ke Banda Aceh dan menawarkan untuk bertemu katanya: "Pak Panjaitan, seandainya masih ada yang harus dilengkapi terhadap bahan kimia dan perlengkapan lab tolong saya diberitahukan agar dapat dibuat rancangan pendanaan pengadaanya"

Tersentak, otakku langsung bekerja, seperti punya inspirasi baru, pengajuan potensi proyek ku yang keluar kepada lae untuk pengadaan bahan dan perlengkapan lab akhirnya dapat terlaksana juga. Dengan cepat aku katakan "Pak, memang saya sudah mendata bahan dan perlengkapan lab yang dibutuhkan namun dibatalkan oleh badan-badan bantuan jerman itu, nanti saya akan email langsung kepada bapak, tolong saya di sms alamat email bapak biar saya attach dokumen nya"

Singkat cerita, ternyata usulan pengadaan itu sampai sekarang tidak terlaksana jua, entah karena rancangan anggaran untuk tahun ini dan tahun depan sudah lewat masa nya atau karena lain hal, aku tidak tahu. Akhirnya aku dikecewakan lagi, terlebih karena omonganku yang sudah terlanjur keluar untuk si lae.

Meski aku benci dikecewakan, aku lebih benci lagi mengecewakan orang dan tidak menepati janjiku, sebisa mungkin aku mencari cara agar semua janji yang aku ucapkan terlaksana. Namun apa daya, ternyata semuanya itu sia-sia, kekecewaan demi kekecewaan datang bertubi-tubi.

Hari minggu aku berangkat ke Sigli, usai bergereja. Dijemput langsung di kostan jam 13 siang. Sampai di Sigli jam 16sore di Wisma Dian, tempat aku menghabiskan 6hari waktuku. Semua perlengkapan aku cek dan cek ulang agar pada hari H semuanya berjalan lancar.

Puji TUHAN ternyata acara berjalan sukses, meski disana-sini terhadap masalah teknis, namun aku merasa TUHAN membantuku dalam setiap hal. Proyektor pinjaman gtz-slgsr ‘ngambek‘ ga mau menampilkan gambar, padahal semalam aku sudah tes, menonton film "Hancock" dengan proyektor di dinding kamar wisma, eh malah paginya ga mau beroperasi, bener ‘ngambek‘ kali yah? Tetapi, ternyata orang Bapedalda memiliki proyektor baru merk Acer yang masih perawan, benar-benar belum dibuka plastiknya. Alhasil semua berjalan sukses, yang paling berkesan bagi mereka adalah disaat waktu praktek lapangan.

Kami mengunjungi hulu sungai di luar kota dekat dengan gunung, jalan berliku, dan pemandangan indah seolah menyambut kami dengan kesegaran setelah seminggu penuh diberikan beban pembekalan materi. Di pinggir sungai yang airnya bersih dan deras serta di udara yang sejuk-mendung kami mempersiapkan alat-alat uji air, berfoto-foto, makan snack dan menghabiskan waktu bersosialisasi dengan para pejabat Bapedalda Sigli.

Di akhirnya, aku memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengkritik program pelatihan tersebut dengan memberikan Questionnaire sebagai bahan umpan balik (feed back) dan mayoritas mereka menilai bahwa program itu berjalan dengan baik hampir sangat baik, hanya satu orang yang memberikan penilaian cukup. Saran mereka yang paling banyak adalah bahwa sebaiknya lebih sering dilakukan praktek lapangan. Aku senang.

Mereka mengucapkan banyak terima kasih padaku, suatu kali mereka menyediakan banyak sekali buah durian khusus untuk aku, sangking banyaknya hingga aku perlu 2 orang kawan makan untuk menghabiskannya. Oh.. indahnya pelayanan..

Kekecewaan demi kekecewaan datang menghampiri… Terlibatnya emosi namun kehendak TUHAN harus terjadi… Ketika semuanya usai sungguh mains dan indah tak terperi…

For everything there is its own time

June 30th, 2008 by jdrudolfp2

Swiss_alpen There were times in my life when i was going insane, chasing what seems to be important while in fact in the end it was a waste/nothing.

Other times, feeling so certain about my idealism and ready to burst into the uncertainty and instability of this world, chasing the most ideal (if not dreamy thought) of mine to make it reality, in fact i am doing it right now for a time only my heavenly FATHER knows.

Trying to change other people for the good, how foolish and naive of me. Acting as if i have the capability of doing such heavenly task. A good friend of mine critisized me while i was talking with him one sunday afternoon on the phone. After explaining something briefly, He promptly asked me: "Why do you even bother to do such menial task and waste your valuable time?"

Then i answered him: "Hey, what happened to you man? Where does your Lift-on-high idealism i use to sense back then, have you change." He replied: "You need not to do that, your time is precious, why do you have to help her change?"

Then after a few days later i realized, there is always a time for everything.

You see, it is not up to me to change her, i have to learn that it is not my responsibility to do so. Then you might ask me the same question i have been thinking: "Have i been selfish now?" Hmmm..

Its not as simple as that, life itself is far from simple and sure is not ideal, nor fair/just.

After a deep thought, i understand that she have to find her own way of overcoming her weaknesses, so that she can become wiser, which is expected by the society if a girl has turned into a woman. Learn how to think from other peoples point of view, respect and value the process not the end result and have a big chunk of empathy. Because it is sure not one of the male traits. Confused are you? ofcourse you are, because you are already in the middle of a long story cut short.

The important thing is, this process itself is a way the Lord wisened me or make me wiser. That i have to accept things as they were and let other people choose what they want to become thus in so doing experience their own decision and the future result that come forth. This is the core of (in understanding) FREE WILL philosophy.

Independency is the keyword, it is the essential part of wisdom which is also one of the expected trait found if one wants to be regarded as an adult woman or man.

The things happened are no accidents but purposefully done, uniquely tailored to my needs by the Heavenly Father HIMself. So that the sequence about to happen thereafter become a beautiful complete picture that HE already has planed for me.

So, i might as well sit back, relax and enjoy the process. No grudge nor anger needed, should it turned out not as i expected. As long as i know i have done my best of what i thought my FATHER wants out of me i am safe.

So, you see, selfishness itself is the core of independency, it is no longer considered (at least in this case) a negative character, for it is also a component HE uses to wisen a person HE chose.

The LORD does work in a very misterious ways isn’t it? I surely haven’t figure it out yet, what does HE really wants of me.. Do you?